Hipotesis Seksi Cagar Budaya, Soekarno Tak Pernah Orasi di Mimbar Simpang Lupis

577
Mimbar simpang lupis Kepahiang
Bidang Kebudayaan Disbudparhub Kominfo Kepahiang pernah menyebut mimbar ini pernah digunakan Soekarno berorasi. Ini dibantah oleh Bidang Kebudayaan Disdikbud Kepahiang, bahkan objek ini tak masuk cagar budaya | Foto: Dok. PROGRES KEPAHIANG

PROGRESKEPAHIANG.com – Berdasarkan hipotesis Seksi Cagar Budaya Bidang Kebudayaan Dinas Dikbud Kepahiang, mimbar atau podium permanen yang terletak di pertigaan Pasar Sejantung/Pasar Tengah (Simpang Lupis) atau di depan rumah dinas Wakil Bupati tak pernah digunakan oleh Presiden RI pertama Soekarno untuk berorasi.

Kepala Seksi Cagar Budaya Dinas Dikbud Kepahiang, Firmansyah atau yang akrab dengan panggilan Emong Soewandi mengatakan tak ada bukti yang bisa menguatkan mimbar itu pernah digunakan Soekarno berorasi.

“Hipotesis kita, Soekarno tak pernah ke mimbar itu, apalagi melakukan orasi. Beliau itu tahanan politik di Bengkulu ini, jadi tak mungkin melakukan pergerakan yang seperti itu,” terang Emong saat dijumpai di ruang kerjanya, Rabu (22/2/2017).

Menurut Emong, Soekarno biasa menyampaikan pesan pergerakan kemerdekaan melalui kesenian.

“Tindak tanduk Soekarno selalu diawasi oleh Pemerintah Hindia Belanda, ia tak bisa melakukan pergerakan politik secara terang-terangan. Makanya di Bengkulu beliau membuat Sanggar Monte Carlo dan cukup mengikuti kegiatan Muhammadiyah,” jelasnya.

Itu Adalah Mimbar Gereja Taman

Mimbar Simpang Lupis Kepahiang
Mimbar Simpang Lupis | Foto: Dok. PROGRES KEPAHIANG

Masih berdasarkan hipotesisnya, mimbar tersebut merupakan bekas mimbar gereja taman.

“Umat Nasrani di Kepahiang saat itu tak banyak, sehingga Pemerintah Hindia Belanda juga tak berinisiatif membangun gereja permanen. Mimbar itu digunakan untuk ibadah ” jelasnya.

Tak Masuk Cagar Budaya

Bidang Kebudayaan Dinas Dikbud, lanjut Emong, tak berniat mendaftarkan mimbar itu sebagai objek yang terindikasi cagar budaya ke Sistem Registrasi Nasional (Siregnas) Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Sepertinya belum, tapi kami tetap mengakui itu sebagai kekayaan budaya,” sampainya.

Saat ditanya mengenai hipotesis Bidang Kebudayaan Disbudparhub Kominfo Kepahiang terdahulu yang menyebut mimbar itu pernah digunakan Soekarno, Emong enggan menjawab lebih jelas.

“Saya tidak bisa komentar soal itu,” jelasnya.

“Yang pasti, kami memulai melakukan inventarisir cagar budaya ini dari nol. Kami pun melakukan sejumlah penelusuran dan berharap bisa mengungkap sejarah kebudayaan di Kabupaten Kepahiang ini lebih jelas,” tandasnya.

Penelusuran Progres Kepahiang, memang belum ada satu pun warga di kawasan Kelurahan Pasar Kepahiang yang mengetahui persis cerita dibalik Mimbar Simpang Lupis tersebut. Padahal, mengenai cerita Soekarno pernah berorasi di atas mimbar itu pernah diterbitkan media lokal dan nasional.(pid)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
BAGIKAN

LEAVE A REPLY