“Sasaran Raperda Kepemudaan Itu Pemuda, Bukan OKP”

Juni 2, 2021
Berita Utama Hukum 0   359 views 0
Franco Escobar

Seorang jurnalis media cetak sedang mewawancarai Ketua Pansus I DPRD Kepahiang Franco Escobar, S.Kom terkait Raperda Kepemudaan (Foto: Amin/PROGRES.ID)

KEPAHIANG, PROGRES.ID – Ketua Pansus 1 DPRD Kabupaten Kepahiang Franco Escobar menegaskan sasaran Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kepemudaan adalah pemuda dengan rentang usia 16 hingga 30 tahun. Menurut Franco Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) hanya sebagai wadah mengakses informasi dan koordinasi dengan program pemerintah.

“Perda ini tidak menyasar OKP-nya, tapi pemudanya. Output-nya nanti adalah pemuda-pemudi di Kabupaten Kepahiang mendapat akses seluas-luasnya untuk menjadi mandiri. Contohnya, jika pemerintah punya program pemberdayaan pemuda, maka sasarannya adalah pemuda dengan rentang usia 16 hingga 30 tahun,” tegas Franco kepada jurnalis di ruang Komisi I DPRD Kepahiang, Rabu (02/05/2021).

Franco menambahkan, dengan Perda ini nantinya Pemerintah Daerah memiliki dasar hukum untuk menggerakkan pemuda agar memiliki akses yang sama mencapai kemandirian.

“Hanya segelintir pemuda yang punya kecukupan dan bisa mengakses beragam fasilitas, tanpa perlu campur tangan kebijakan pemerintah. Untuk itu agar semua pemuda punya akses yang sama, baik itu akses untuk mendapat  beasiswa, pelatihan atau program lainnya, maka Perda inilah yang akan menjembatani,” jelas Franco.

Menurut Franco, OKP tetap memiliki peran dalam menjalankan Perda ini jika telah disahkan, yakni dengan menjadi fasilitator atau menjembatani akses dengan program yang dibuat pemerintah.

“Dalam Raperda ini tetap ada pasal yang menyebut OKP. OKP yang dimaksud setidaknya memiliki struktur KSB (Ketua, Sekretaris dan Bendahara). Raperda ini tidak mengatur lebih dalam soal OKP-nya. Nanti, OKP inilah yang ikut berperan memandirikan pemuda,” jelasnya.

Franco menuturkan, Perda ini mendorong pemuda-pemudi Kepahiang untuk mandiri, bukan berpangku tangan menerima dana bantuan dari pemerintah.

“Kita maunya pemuda itu mandiri. Kedepan, pemuda-pemudi kita punya skill (keahlian) yang mumpuni dan mampu bersaing. Bukan perpangku tangan menerima bantuan. Bisa saja kita ngasih bantuan, misalnya Rp 5 Juta per pemuda. Tapi apa jadinya nanti? Pemuda kita tidak kreatif dan cenderung berpangku tangan,” tuturnya.(pid)

Banner BKD Kepahiang



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.