Melihat Produksi Kelanting di Desa Tangsi Duren

Progres Kepahiang
Menggoreng kelanting
Prayitno sedang menggoreng kelanting

Adalah Hadi Prayitno (64) dan Suriyah (55), suami istri yang dengan tekun bekerjasama membangun industri rumah tangga berupa kelanting. Cemilan khas Jawa ini juga biasa disebut klanting adalah makanan yang dibuat dari ubi (singkong). Ada juga yang membuatnya dengan bahan tepung jagung.

Pada Jumat (26/8/2016), Progres Kepahiang sempat bertandang sejenak melihat produksi kelanting di Desa Tangsi Duren ini. Pak Prayitno tampak sendiri menggoreng kelanting di dapurnya, sementara istrinya menunggui warung yang menyediakan bermacam makanan, mulai dari lotek, lontong dan lainnya.

Sesekali istrinya (Suriyah) datang ke dapur membungkus kelanting yang sudah tak lagi panas usai digoreng.

produksi kelanting
Prayitno dan istrinya saat memproduksi kelanting

Prayitno menceritakan setiap bungkus kelanting dijualnya seharga Rp 5 Ribu. Normalnya, ia mampu memproduksi sekitar 10 Kilogram atau sekitar 50 hingga 70 bungkus.

“Sebenarnya tidak tentu, tergantung cuaca, kalau bagus terus bisa buat banyak, kalau sering hujan ya nggak bisa, mana bisa jemur kelantingnya,”  jelas Prayitno.

Ia mengatakan kelanting produksinya itu biasa dibeli pengunjung yang usai berwisata di kebun teh Kabawetan.

“Kadang-kadang rombongan datang rame-rame beli untuk oleh-oleh ke sini,”  ceritanya.

Prayitno mengatakan, untuk memproduksi kelanting ia membutuhkan minyak goreng sebanyak 10 Kilogram. Selain itu, bahan baku yang dipakai yaitu tepung ubi, dengan bumbunya berupa ketumbar, garam, bawang dan penyedap rasa.

“Adonannya itu dibuat panjang-panjang seperti ini, dijemur, kalau sudah kering baru bisa digoreng. Makanya saya bilang harus tergantung cuaca, pernah juga kami nggak bikin, karena nggak ada yang bisa digoreng, tapi kalau dirata-ratakan, setiap hari itu kalau normal 10 kilo,”  jelas Prayitno.(**)