Harga Tak Stabil, Petani Cabai Rawit di Pematang Donok Kerap Merugi

Agustus 8, 2020
Petani cabai di desa Pematang Donok

Petani cabai Desa Pematang Donok, Hardianto di kebun cabainya (Foto: Rian Saputra/PROGRES.ID)

KEPAHIANG, PROGRES.ID – Petani cabai di Desa Pematang Donok Kecamatan Kabawetan mengaku kerap merugi akibat harga cabai rendah saat musim panen. Seperti diungkapkan salah seorang petani cabai Desa Pematang Donok Hardiantoni (35 Tahun). Menurutnya, biaya perawatan cukup tinggi namun tak diimbangi dengan harga yang sesuai harapan.

“Bertani cabai itu cukup rumit, apalagi harga racun melonjak, pupuk juga begitu. Tapi hasil yang diharapkan akhirnya tidak sesuai harapan, harganya rendah,” ungkap Hardiantoni saat dijumpai di kebunnya di Desa Pematang Donok, Sabtu (08/08/2020).

Ia berujar, sejak 7 tahun bertani cabai rawit, hanya 3 kali yang ia anggap hasilnya cukup membuat sumringah.

“Saya sudah nanam cabai sejak 7 tahun lalu, tapi hanya beberapa kali saja dapat harga yang sesuai harapan para petani cabai. Dari menanam cabai besar sampai cabai rawit saya sudah coba, tapi blum ada kenaikan yang berarti,” ujar dia.

Kebun cabai

Kebun cabai milik Hardianto di Desa Pematang Donok, Kecamatan Kabawetan (Foto: Rian Saputra/PROGRES.ID)

Sejak setahun terakhir, lanjut Hardi, harga cabai selalu tak sesuai harapan dan hanya berkisar Rp 12 hingga Rp 15 Ribu.

“Tidak ada perubahan, mulai dari Rp 15 Ribu hingga kurang lebih Rp 12 sampai Rp 13 Ribu. Sedangkan harga racun mulai dari Rp 25 Ribu-125 Ribu. Belum lagi harga pupuk 1 sak-nya sampai Rp 490 Ribu. Kalau pakai pupuk kandang harganya Rp 20 Ribu per karungnya,” keluhnya.

Harapkan Pemerintah Intervensi Harga

Petani cabai berharap, Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Kabupaten Kepahiang dapat mengintervensi harga dengan berbagai program.

“Harapan kami harga cabai bisa membuat kami tersenyum. Bagaimana caranya itu terserah pemerintah, apakah ngasih subsidi ke petani, atau cara lain,” sampai Hardi.

Menurut Hardi, harga cabai sempat stabil pada angka Rp 30 Ribu per kilogram. Sementara saat ini, harganya tidak menentu dan cenderung rendah, terutama di tingkat petani.

“Biaya perawatannya mahal, 1 rol saja kurang lebih Rp 4 Juta kalau para petani memberi upahan. Kalau dikerjakan sendiri biayanya sekitar Rp 2 juta. Maka dari itu kami berharap harga cabai bisa tinggi, terutama di tingkat petani, terkadang tinggi hanya di tingkat pasar, pas tingkat petani rendah,” pungkas Hardianto.(cj1)

 

Pewarta: Rian Saputra
Editor: Mukhtar Amin



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.