Ketika Kemarau Menjadi Rezeki Penjual Air Bersih

Oktober 15, 2019
Berita Utama Humaniora 0   371 views 0
Mengisi air bersih

Liswin mengisi air bersih ke dalam tedmond untuk kemudian diantar kepada pemesan (Foto: Koko/PROGRES.ID)

KEPAHIANG, PROGRES.ID – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kepahiang dan sekitarnya ternyata tidak selalu membuat orang mengeluh karena sulitnya mendapat air bersih. Ada pula orang lain yang justru mendapat rezeki dari kesulitan tersebut.

Liswin dan Musliadi misalnya. Ia setiap hari menyiapkan dan mengantarkan air ke rumah-rumah warga yang memesan air bersih. Dengan berbekal galon besar (tedmond) dan mobil jenis pikap, ia mampu mengantar sekitar 20 tedmond air bersih setiap hari kepada warga yang memesan.

“Kadang kalau lagi ramai-ramainya ada dua puluh mobil (orang yang memesan air bersih). Dalam sehari ada dua puluh mobil,” ungkap Liswin saat diwawancarai jurnalis, Selasa (15/10/2019).

Ia mendapatkan air bersih dari mata air di kawasan perbatasan Mandi Angin, Kelurahan Pasar Kepahiang dan Desa Tebat Monok, Kecamatan Kepahiang.

Penjual air bersih

Liswin dan Musliadi saat menjawab pertanyaan jurnalis (Foto: Koko/PROGRES.ID)

“Mata air langsung. Keluar dari pasir,” ujar Liswin.

Air yang keluar dari mata air itu disaring hingga 5 kali sebelum disalurkan ke bak penampungan.

“Lima kali penyaringan, terus ditampung ke bak,” imbuh dia.

Berbeda dengan Liswin, Musliadi hanya mengantar sekitar 6 tedmon sehari. Menurutnya, harga air bersih yang ia jual berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 70 Ribu.

“Antara Rp 60 Ribu atau Rp 70 Ribu, tergantung jarak antar. Sekitar Rp 300 ribuan sehari, (omzet) kotornya,” terang Musliadi.

Ia menjelaskan, kepada pemilik air bersih ia membayar Rp 15 Ribu per tedmon. “Ngambil ke sini Rp 15 Ribu per tedmon,” ungkap Musliadi.(pid)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.