Sejak Usia 8 Bulan, Murid SD Ini Idap Pembengkakan Perut

Oktober 26, 2017

PROGRESKEPAHIANG.com – Miris. Sejak usia 8 bulan, Amira Putri (7 Tahun),  murid kelas I SDN 03 Sidodadi Kelurahan Pasar Ujung, Kepahiang, menderita pembengkakan perut. Sisi kiri perut Amira yang mengembung tampak keras ketika dipegang dan ditekan.

Perut gadis cilik berbadan kurus ini mulai terlihat membengkak ketika Amira berusia 8 bulan. Karena keterbatasan biaya, maka, kedua orang tuanya, M Nasir (38 Tahun) – Eti Haryati (36 Tahun) tak mampu membiayai pengobatan buah hatinya ini.

“Saat berumur 5 tahun tahun 2014 lalu, Amira pernah kita bawa ke RSUD Kepahiang. Menurut dokter, Amira menderita penyakit Thalesimia yang mengakibatkan Amira kekurangan sel darah merah. Lalu, Amira disarankan untuk melakukan transfusi darah setiap 2 minggu sekali. Karena tidak punya biaya, maka, kita tidak bisa memenuhi saran dokter itu. 1 kali tranfusi darah Amira membutuhkan 2 kantong darah golongan A,’’ tutur M Nasir, ayah Amira saat ditemui di rumahnya di Jl Sentiong  No 65 RT 12 Lingkungan IV Kelurahan Pasar Ujung, Kamis, (27/10/2017).

Amira Putri

Amira Putri (7 Tahun) menderita pembengkakan perut sejak usia 8 bulan | Foto: Rahman Jasin/PROGRES KEPAHIANG

Walaupun badan Amira terlihat kurus dan lemah, namun semangat Amira  untuk sekolah tetap tinggi. Terbukti, setiap hari Amira tetap sekolah. ‘’Setiap berangkat dan pulang sekolah Amira harus kita gendong. Karena Amira tidak kuat berjalan. Kalau dia capek, maka, dia akan sakit. Kalau selera makan Amira cukup besar. Tapi, walaupun makannya banyak badannya tetap kurus. Hanya perutnya saja yang terus membesar,’’ ujar N Nasir didampingi Reza Elmaini, bibi Amira.

Sepulang sekolah sekitar pukul 10.00 WIB, Amira hanya bermain di rumah. Karena, Amira tidak mampu bermain di luar rumah bersama teman-teman.

“Sampai saat ini, Amira belum pernah mendapat bantuan dari Dinas Sosial atau Dinas Kesehatan Kepahiang. Padahal, kami sangat membutuhkannya. Kami berharap Amira dapat disembuhkan,’’ sambung Nasir yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek dan istrinya Eti Haryati bekerja sebagai buruh petik teh di Kabawetan. (rjs)

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.