Kolom  

Melihat Kesiapan Kepahiang Hadapi Resesi Dunia 2023

Nirwan Ali
Ali
Nirwan Ali, SM

Perkiraan resesi dunia tahun 2023 menjadi ancaman serius bagi negara-negara di dunia. Di Indonesia, semua daerah juga harus bersiap. Termasuk Kabupaten Kepahiang yang memiliki sumber daya terbatas, baik dari pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) maupun pendapatan daerah.

Tingkat kemiskinan dan daya beli masyarakat yang menurun, akan menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Kepahiang dan juga stakeholder lainnya. Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan mengingatkan kementerian hingga Pemerintah Daerah untuk bersiap menghadapi “kegelapan” pada tahun 2023.

Tetapi belakangan ada berita baik. Berdasarkan pernyataan terakhir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Indonesia dan tiga negara lainnya, yakni India, Meksiko dan Brasil adalah negara yang diperkirakan tidak akan tertimpa resesi. Tapi tetap saja, kewaspadaan atau persiapan menghadapi itu harus dilakukan.

Jika melihat dua tahun terakhir, sebenarnya, jika resesi itu pun tetap terjadi dan melanda Indonesia, bukankah kita sudah pernah merasakannya pada tahun 2020 dan 2021? Saat pandemi Covid-19 melanda, sejumlah perusahaan harus tutup, banyak yang harus berhenti bekerja. Itu adlah pengalaman resesi yang luar biasa.

Saat dimana di mana-mana akses dibatasi. Pendapatan masyarakat menurun, banyak yang terkena PHK dan sebagainya. Pengalaman tersebut sudah menguatkan kita jika resesi memang datang tahun depan.

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan II tahun 2022 ini justru tumbuh 4,76% secara tahunan atau year on year (yoy), atau meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,03% (yoy).

Provinsi Bengkulu bahkan mampu masuk menjadi provinsi yang mampu mengendalikan inflasi pascakenaikan harga BBM. Provinsi Bengkulu mampu menahan laju inflasi di bawah inflasi nasional yang sebesar 1,14%. Bengkulu menekan inflasi tertahan diangka 0,26%, sejak Mei hingga Agustus 2022. Provinsi Bengkulu bahkan masuk 10 besar provinsi di Indonesia yang mampu menekan laju inflasi.

Namun, diperkirakan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bengkulu akan melambat pada triwulan III 2022. Hal ini disebabkan karena ketidakpastian global seiring meluasnya dampak geopolitik perang Rusia-Ukraina serta tren historis normalisasi level konsumsi masyarakat pasca Ramadhan dan Idul Fitri.

Jika melihat keadaan masyarakat Kabupaten Kepahiang yang mayoritas bermatapencaharian sebagai petani kopi dan lada, hal ini masih menguntungkan. Di kabupaten lain di Provinsi Bengkulu, tingginya inflasi disebabkan pula oleh harga sawit yang belum kunjung membaik. Hal ini tidak begitu berpengaruh dengan harga kopi dan lada yang masih terbilang terkendali.

Di Sumatera, Kepahiang menjadi salah satu daerah terbaik yang mampu mengendalikan inflasi. Bahkan, pada 14 September 2022 lalu, Tim Pengendali Inflasi Daerah Kabupaten Kepahiang menerima penghargaan dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Lalu, apakah kondisi ini mampu menopang ketahanan ekonomi Kepahiang pada 2023? Tentu saja Kabupaten Kepahiang tidak boleh terkesima dengan data-data dan penghargaan yang diraih. Pemkab Kepahiang harus mampu menghadapi krisis ekonomi yang bisa saja berimbas buruk bagi kabupaten yang baru berusia 18 tahun ini.

Bukan hanya Pemkab Kepahiang, stakeholder lain juga diharapkan mampu memberikan stimulus berupa bantuan atau langkah lain yang mampu mendorong peningkatan ekonomi. Selain bantuan yang sudah menjadi program nasional, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) Pusat, PKH dan lainnya, juga harus ada aksi lain yang  direalisasikan.

UMKM dan pedagang kecil, pelaku usaha jasa hingga petani yang ada harus didukung agar tetap mampu menyokong perekonomian. Hal inilah yang menjadi PR bersama agar tahun 2023 yang diprediksi berat dapat dilalui.

Selain itu, potensi pariwisata harus digiatkan. Sangat disayangkan memang, jika proyek Waterpark di Kabawetan harus mangkrak. Karena itu potensi wisata baru yang akan mampu menambah kunjungan ke Kepahiang. Ekonomi akan bergerak, peredaran uang di Kepahiang meningkat.

Objek-objek wisata yang ada, baik yang dikelola swasta maupun pemerintah desa dan kabupaten tidak boleh diabaikan dampaknya bagi peningkatan ekonomi daerah. Karena kita sudah melihat banyak daerah yang mampu memiliki PAD besar dari sektor wisata, seperti Bali, Nusa Tenggara, Belitung dan lainnya.

 

Penulis adalah pemerhati sosial, ekonomi dan politik di Kabupaten Kepahiang

sukseskan anbk smp



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.