KEPAHIANG.PROGRES.ID – Piala Dunia 2026 menghadirkan banyak perubahan, tetapi salah satu yang paling mencuri perhatian justru bukan soal taktik atau teknologi VAR. Sejak pertandingan pertama bergulir, para penonton dibuat bertanya-tanya oleh satu pemandangan yang terus berulang di setiap laga: pertandingan selalu dihentikan dua kali untuk water break.
Yang membuat banyak orang bingung, jeda tersebut tetap dilakukan meski pertandingan berlangsung di stadion tertutup berpendingin udara atau dalam kondisi cuaca yang relatif nyaman.
Lantas, mengapa FIFA mewajibkan water break di seluruh pertandingan Piala Dunia 2026?
Aturan Baru yang Berlaku di Semua Pertandingan
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA menerapkan jeda hidrasi wajib di seluruh pertandingan turnamen.
Dalam setiap laga, wasit akan menghentikan permainan sekitar menit ke-22 dan menit ke-67. Para pemain diberikan waktu sekitar tiga menit untuk minum, mendinginkan tubuh, dan menerima instruksi singkat dari tim pelatih sebelum pertandingan dilanjutkan.
Aturan tersebut berlaku tanpa pengecualian, baik di stadion terbuka yang panas maupun arena tertutup yang memiliki sistem pendingin modern.
Langkah ini langsung menjadi salah satu kebijakan paling banyak dibicarakan sepanjang turnamen.
FIFA: Demi Keselamatan Pemain
FIFA menegaskan bahwa alasan utama di balik kebijakan tersebut adalah perlindungan terhadap kesehatan pemain.
Piala Dunia 2026 digelar pada musim panas di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, wilayah yang diperkirakan mengalami suhu tinggi dan tingkat kelembapan yang cukup ekstrem selama berlangsungnya kompetisi.
Kekhawatiran mengenai risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga heat stroke meningkat setelah sejumlah pertandingan di ajang Piala Dunia Antarklub 2025 berlangsung dalam kondisi cuaca yang berat.
Sebelumnya, jeda hidrasi hanya diberikan jika suhu udara mencapai ambang tertentu. Namun kali ini FIFA memilih menerapkan aturan yang sama untuk seluruh pertandingan agar setiap tim mendapatkan perlakuan identik.
Menurut badan sepak bola dunia tersebut, pendekatan universal dianggap lebih efektif dibandingkan harus melakukan penilaian cuaca secara berbeda di setiap stadion.
Kritik dari Pemain dan Pengamat
Meski bertujuan melindungi pemain, kebijakan ini tidak sepenuhnya mendapat dukungan.
Salah satu kritik paling keras datang dari kapten Belanda, Virgil van Dijk, setelah timnya bermain imbang 2-2 melawan Jepang.
Dalam pertandingan tersebut, jeda hidrasi tetap dilakukan meski laga berlangsung di stadion tertutup yang memiliki pengaturan suhu dan iklim yang stabil.
Van Dijk mempertanyakan alasan penerapan aturan secara otomatis tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca nyata di lokasi pertandingan.
Menurutnya, jika suhu tidak membahayakan pemain, maka penghentian pertandingan seharusnya tidak perlu dilakukan.
Selain itu, sejumlah pengamat menilai jeda tersebut mengganggu ritme pertandingan dan memecah momentum permainan yang sedang berjalan.
Benarkah Ada Faktor Komersial?
Di luar alasan kesehatan, muncul pula perdebatan mengenai potensi keuntungan komersial di balik aturan baru tersebut.
Pasalnya, water break selalu berlangsung pada waktu yang relatif sama, yakni sekitar menit ke-22 dan menit ke-67. Momen tersebut memberi ruang tambahan bagi stasiun televisi dan pemegang hak siar untuk menayangkan iklan selama siaran langsung berlangsung.
Fakta bahwa FIFA mengizinkan penayangan iklan selama jeda hidrasi semakin memicu spekulasi di kalangan penggemar sepak bola.
Banyak pendukung yang menilai kebijakan ini tidak semata-mata berkaitan dengan keselamatan pemain, tetapi juga membuka peluang pendapatan tambahan dari sektor penyiaran dan sponsor.
Perdebatan pun semakin ramai di media sosial, terutama ketika pertandingan yang berlangsung di stadion berpendingin udara tetap mendapatkan dua kali jeda wajib.
Akan Terus Dipertahankan?
Hingga saat ini FIFA belum menunjukkan tanda-tanda akan mengubah kebijakan tersebut. Artinya, seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 dipastikan akan menerapkan dua kali jeda hidrasi.
Bagi FIFA, keselamatan pemain tetap menjadi prioritas utama. Namun bagi sebagian pemain, pelatih, dan penggemar, pertanyaan mengenai efektivitas serta motif di balik aturan ini kemungkinan akan terus menjadi bahan diskusi sepanjang turnamen berlangsung.
Yang jelas, selain gol-gol spektakuler dan kejutan di lapangan, water break kini menjadi salah satu “pemain baru” yang ikut mewarnai jalannya Piala Dunia 2026.











