KEPAHIANG.PROGRES.ID – Desert Dragon (2021) merupakan film aksi fantasi wuxia asal Tiongkok yang memadukan legenda kuno, pertarungan pendekar, dan konsep perjalanan waktu. Film ini disutradarai oleh Wang Yan Peng, dengan Tan Xin Zer memerankan tokoh utama Li Yuan Ji, serta Liu Yi Yan sebagai Qing Ling’er.
Mengusung latar dunia persilatan klasik, Desert Dragon menawarkan cerita tentang perlawanan manusia terhadap kekuatan iblis yang mengancam keseimbangan alam semesta.
Sinopsis dan Alur Cerita
Cerita berlangsung menjelang akhir Dinasti Tang, ketika ketenangan dunia mulai terusik. Huangfu Beng, tetua bijaksana dari Paviliun Kunwu di Gunung Kunlun, menyadari adanya pergerakan mencurigakan dari para iblis yang berniat menghancurkan urat naga, sumber energi yang menjaga keharmonisan alam.
Ancaman utama datang dari iblis pohon purba yang telah hidup ribuan tahun. Makhluk ini semakin berbahaya setelah berhasil menyerap Mutiara Iblis, membuat kekuatannya melonjak drastis dan nyaris tak terbendung.
Dalam kondisi terdesak, Huangfu Beng mengambil keputusan ekstrem. Ia mengaktifkan Formasi Arus Terbang, sebuah teknik terlarang yang mampu memanipulasi ruang dan waktu. Melalui formasi ini, dua muridnya—Xuntan dan Qing Ling’er—dikirim kembali ke masa tiga hari sebelum bencana terjadi, tepatnya di Kota Batu.
Misi mereka jelas namun penuh risiko: menghentikan iblis pohon sebelum berhasil memperoleh Mutiara Xuan Yin, kunci kebangkitan kekuatan gelap yang lebih dahsyat.
Ulasan dan Kesan Film
Desert Dragon menghadirkan perpaduan menarik antara fantasi wuxia klasik dan unsur time travel, sesuatu yang jarang dieksplorasi dalam film sejenis. Wang Yan Peng berhasil membangun atmosfer dunia mistis yang sarat dengan simbol-simbol legenda Tiongkok, mulai dari formasi sihir kuno hingga makhluk iblis yang mengintimidasi.
Adegan laga menjadi salah satu daya tarik utama. Pertarungan antara para murid Paviliun Kunwu dan iblis pohon digarap dengan tempo cepat dan koreografi yang cukup solid. Meski efek visualnya tidak setara film fantasi beranggaran besar, sentuhan magis dan aura mistisnya tetap terasa kuat.
Penampilan Tan Xin Zer dan Liu Yi Yan patut diapresiasi. Keduanya berhasil menampilkan emosi, tekad, serta dinamika hubungan murid dan guru yang menjadi inti cerita. Kehadiran konsep pengulangan waktu tiga hari memberi ketegangan tersendiri, membuat penonton ikut menebak apakah takdir benar-benar bisa diubah.
Alur cerita memang bergerak cepat di beberapa bagian, namun tetap mudah diikuti dan tidak membingungkan, terutama bagi penggemar genre wuxia dan fantasi klasik.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Desert Dragon (2021) merupakan film aksi fantasi yang layak ditonton, khususnya bagi pecinta kisah pendekar, pertarungan magis, dan cerita tentang manusia melawan kekuatan iblis. Unsur perjalanan waktu menjadi pembeda yang memberi warna baru pada narasi wuxia tradisional.
Bagi penonton yang menyukai legenda kuno dengan sentuhan fantasi modern, Desert Dragon menawarkan pengalaman menonton yang seru dan cukup berkesan. ***









