KEPAHIANG.PROGRES.ID – Timnas Kolombia sukses mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 3-1 atas Uzbekistan pada laga Grup K yang berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City, Rabu waktu setempat. Namun di balik hasil positif tersebut, pelatih Néstor Lorenzo mengungkapkan bahwa para pemainnya sempat terbebani oleh ekspektasi tinggi yang menyertai mereka.
Kemenangan tersebut membawa Kolombia memuncaki klasemen sementara Grup K setelah Portugal dan Republik Demokratik Kongo bermain imbang 1-1 pada pertandingan sebelumnya.
Kolombia sebenarnya tampil dominan sejak awal pertandingan. Gol pembuka yang dicetak Daniel Muñoz membuat Los Cafeteros mengendalikan jalannya laga. Namun Uzbekistan memberikan perlawanan yang lebih sengit dari perkiraan dan sempat menyamakan kedudukan sebelum Luis Díaz mengembalikan keunggulan Kolombia.
Gol tambahan dari pemain pengganti Jaminton Campaz pada masa injury time akhirnya memastikan kemenangan 3-1 bagi wakil Amerika Selatan tersebut.
Meski puas dengan hasil akhir, Lorenzo menilai atmosfer yang diciptakan ribuan pendukung Kolombia di Stadion Azteca justru memberikan tekanan emosional tersendiri kepada para pemain.
“Atmosfer itu luar biasa dan memberikan energi positif, tetapi secara emosional juga membebani beberapa pemain,” ujar Lorenzo seusai pertandingan.
Menurut pelatih asal Argentina tersebut, faktor laga pembuka dan status Kolombia sebagai tim favorit menjadi penyebab timnya sempat kesulitan bermain lepas.
“Saya pikir itu berkaitan dengan beban emosional pada pertandingan pertama serta tanggung jawab yang muncul karena kami dianggap sebagai unggulan,” katanya.
Uzbekistan Beri Perlawanan Sengit
Lorenzo mengakui timnya tampil sangat baik pada babak pertama dan seharusnya bisa menciptakan keunggulan yang lebih besar sebelum turun minum.
Namun situasi berubah setelah Uzbekistan menerapkan pendekatan permainan yang lebih langsung pada babak kedua. Strategi tersebut membuat Kolombia harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan kendali pertandingan.
“Kami menjalani babak pertama dengan sangat baik. Setelah jeda, mereka mulai bermain lebih direct dan memaksa kami bertahan lebih dalam. Pertandingan menjadi lebih mengandalkan fisik,” jelas Lorenzo.
Ia juga menyoroti efektivitas penyelesaian akhir timnya yang masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, sejumlah peluang emas gagal dimaksimalkan sehingga pertandingan menjadi lebih rumit daripada yang seharusnya.
“Pada babak pertama kami sebenarnya bisa mencetak lebih banyak gol. Penyelesaian akhir masih menjadi aspek yang terus kami perbaiki,” tambahnya.
Terlalu Aman Saat Menguasai Bola
Selain masalah efektivitas di depan gawang, Lorenzo menilai anak asuhnya sempat terlalu berhati-hati saat menguasai bola.
Ia merasa para pemain lebih fokus menjaga penguasaan bola dibandingkan mengambil risiko untuk menciptakan peluang berbahaya.
“Ada momen ketika kami terlalu banyak menguasai bola dan terlalu takut kehilangan bola. Akibatnya, tidak ada yang berani menyelesaikan serangan,” ungkapnya.
Komentar Soal James Rodriguez
Dalam pertandingan tersebut, kapten tim James Rodriguez tidak tampil terlalu menonjol seperti biasanya. Gelandang berpengalaman itu kesulitan menemukan ruang di tengah rapatnya pertahanan Uzbekistan.
Meski demikian, Lorenzo tetap memberikan pembelaan kepada pemain yang menjadi salah satu ikon sepak bola Kolombia tersebut.
“Itu memang bukan pertandingan terbaik James, tetapi saya juga tidak melihat dia bermain buruk,” ujar Lorenzo.
“Mereka menutup area yang biasanya menjadi ruang kerja James. Dia mungkin bukan pemain yang paling menonjol kali ini, tetapi saat tim menguasai bola, kontribusinya tetap sangat penting.”
Fokus Hadapi DR Kongo
Setelah meraih kemenangan perdana, Kolombia kini mengalihkan perhatian ke pertandingan berikutnya melawan Republik Demokratik Kongo di Guadalajara.
Kemenangan pada laga tersebut akan semakin mendekatkan Los Cafeteros ke babak gugur sekaligus memperkuat posisi mereka di puncak klasemen Grup K.
Dengan modal tiga poin dan performa yang terus berkembang, Kolombia kini berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan ambisi melangkah jauh di Piala Dunia 2026.












