Real Madrid Menang Gugatan Lawan UEFA, Siap Tagih Ganti Rugi atas Gagalnya European Super League

icon situs berita progres
stadion real madrid
Stadion Real Madrid (Foto: Pexels)

KEPAHIANG.PROGRES.ID – Raksasa Spanyol Real Madrid kembali meraih kemenangan besar bukan di lapangan hijau, melainkan di meja hijau. Klub berjuluk Los Blancos itu dinyatakan menang dalam gugatan hukum melawan UEFA terkait pembatalan proyek ambisius European Super League (ESL) yang sempat mengguncang dunia sepak bola pada 2021.

Putusan Pengadilan Madrid: UEFA Langgar Aturan Persaingan Uni Eropa

Keputusan penting ini datang dari Provincial Court of Madrid, yang menolak banding dari UEFA, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), dan La Liga.

Dalam putusannya, pengadilan menilai UEFA melanggar prinsip persaingan bebas Uni Eropa serta menyalahgunakan posisi dominan dalam upaya menghentikan proyek Liga Super Eropa.

Real Madrid pun menyambut putusan ini dengan penuh kemenangan. Dalam pernyataan resminya pada Rabu (30/10/2025), pihak klub menyebut keputusan tersebut membuka peluang besar untuk menuntut kompensasi finansial yang signifikan atas kerugian akibat kegagalan proyek ESL.

Pengadilan menegaskan bahwa UEFA, dalam kasus Superliga, telah melanggar aturan persaingan bebas Uni Eropa dengan menyalahgunakan kekuasaannya,” tulis Real Madrid dalam pernyataan resminya.

Klub juga mengklaim bahwa selama 2025 mereka telah berusaha berdialog dengan UEFA untuk membahas tata kelola sepak bola Eropa yang lebih adil dan transparan, namun tidak mencapai kesepakatan.

“Real Madrid akan terus memperjuangkan masa depan sepak bola global dan hak-hak para penggemar, serta menuntut ganti rugi yang pantas dari UEFA,” tegas pihak klub.

UEFA Buka Suara: Putusan Ini Bukan Restu untuk Super League

Tak tinggal diam, UEFA segera menanggapi keputusan pengadilan tersebut. Dalam pernyataan resminya, badan sepak bola Eropa itu menegaskan bahwa putusan ini tidak berarti melegalkan proyek European Super League yang telah gagal pada 2021.

Putusan ini tidak mengesahkan proyek Super League, dan tidak menggugurkan aturan otorisasi baru UEFA yang berlaku sejak 2022,” tulis UEFA.

UEFA menegaskan bahwa regulasi barunya tetap menjamin agar setiap kompetisi antarnegara diselenggarakan berdasarkan kriteria yang objektif, transparan, dan non-diskriminatif.

Mereka juga mengingatkan bahwa Parlemen Eropa baru-baru ini kembali menolak keras proyek liga tertutup semacam itu karena dinilai mengancam keseimbangan ekosistem sepak bola Eropa.

“UEFA tetap berkomitmen pada model olahraga Eropa yang berlandaskan prestasi, keterbukaan, solidaritas, dan perlindungan piramida sepak bola,” tambah pernyataan tersebut.

Dari European Super League ke Unify League

Sebagai pengingat, European Super League (ESL) diumumkan pada April 2021 oleh 12 klub top Eropa, termasuk Real Madrid, Barcelona, Juventus, dan enam klub besar Inggris.

Namun, proyek tersebut runtuh hanya dalam beberapa hari setelah menuai kecaman dari penggemar, federasi, dan pemerintah berbagai negara.

Kendati sebagian besar klub menarik diri, Real Madrid dan Barcelona tetap bersikeras mempertahankan ide liga alternatif yang dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi.

Pada 2024, proyek itu kemudian direbranding menjadi Unify League, meskipun kabar terbaru menyebut Barcelona juga mulai mempertimbangkan untuk hengkang.

Konflik Panjang Belum Usai

Meski Real Madrid memenangkan gugatan, keputusan ini belum otomatis membuat klub mendapatkan ganti rugi dari UEFA. Pengadilan hanya memberikan izin bagi Madrid untuk melanjutkan proses hukum terkait klaim kompensasi tersebut.

Namun, kemenangan ini memperpanjang tensi antara Real Madrid dan UEFA, dua kekuatan besar yang kerap berbeda visi soal arah masa depan sepak bola Eropa.

Sementara UEFA terus mempertahankan model kompetisi tradisional berbasis prestasi, Real Madrid mendorong reformasi yang lebih bebas dan kompetitif. Pertarungan ide antara “model terbuka berbasis merit” dan “liga elit tertutup berbasis profit” tampaknya masih akan berlanjut dalam waktu lama.

Kesimpulan

Kemenangan hukum Real Madrid bukan sekadar soal kompensasi, tetapi simbol dari perjuangan panjang untuk mengubah tatanan sepak bola Eropa.

Apakah langkah hukum ini akan memicu lahirnya liga tandingan baru? Atau justru memperkuat posisi UEFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola Eropa?

Yang jelas, drama antara Real Madrid dan UEFA masih jauh dari kata selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *