KEPAHIANG.PROGRES.ID – Sebuah potongan video berdurasi singkat mendadak menyedot perhatian jagat media sosial. Di dalamnya, seorang pria terlihat meluapkan emosi di sebuah gerai roti, membela seorang nenek yang gagal membeli roti hanya karena satu alasan sederhana: uang tunai yang ia pegang tidak diterima.
Di tengah laju digitalisasi pembayaran yang kian masif, kejadian ini memantik perdebatan panjang. Sistem cashless memang semakin lazim—QRIS, dompet digital, dan aplikasi pembayaran menjadi standar baru di banyak gerai makanan. Namun, video ini mengingatkan publik pada satu kenyataan: tidak semua orang bergerak secepat teknologi.
Amarah yang Mewakili Banyak Suara
Pria dalam video tersebut diketahui bernama Arlius Zebua, pemilik akun TikTok @arlius_zebua. Ia merekam momen ketika seorang nenek hendak membeli roti di gerai Roti O, namun ditolak karena hanya membawa uang tunai. Pegawai toko menyebutkan bahwa gerai tersebut hanya melayani transaksi non-tunai.
Reaksi Arlius spontan. Suaranya meninggi, emosinya terlihat nyata. Bukan sekadar membela seorang nenek, tetapi seolah menyuarakan kegelisahan banyak orang yang merasa tertinggal oleh sistem.
“Uang tunai itu sah. Masa harus QRIS? Nenek-nenek mana punya QRIS?” ucap Arlius dalam video yang kemudian menyebar luas.
Ia bahkan meminta pegawai menghubungi atasan mereka, mempertanyakan kebijakan yang dinilainya tidak manusiawi jika diterapkan tanpa pengecualian.
Viral dan Terbelah
Unggahan tersebut melesat cepat. Dalam waktu singkat, video itu telah ditonton lebih dari 1,7 juta kali. Kolom komentar pun menjadi arena perdebatan.
Sebagian warganet mengecam kebijakan toko. Mereka menilai penolakan uang tunai, apalagi dari seorang lansia, sebagai bentuk ketidakpekaan sosial. Ada pula yang mengaitkan kejadian itu dengan aturan perundang-undangan terkait mata uang rupiah.
Namun, tidak sedikit pula yang membela pegawai. Menurut mereka, karyawan hanya menjalankan SOP dan berada dalam posisi serba salah. Ada yang menyebut bahwa melanggar sistem pembayaran bisa berujung sanksi internal, bahkan tuduhan kecurangan.
Di sinilah dilema modern itu terlihat jelas: antara aturan sistem dan empati manusia.
Klarifikasi dari Roti O
Menanggapi viralnya peristiwa tersebut, pihak Roti O akhirnya buka suara. Melalui akun Instagram resmi @rotio.indonesia, manajemen menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan menyatakan akan melakukan evaluasi internal terhadap layanan mereka.
Dalam klarifikasinya, Roti O menjelaskan bahwa penerapan pembayaran non-tunai bertujuan untuk memberikan kemudahan transaksi, sekaligus menawarkan berbagai promo dan potongan harga bagi pelanggan.
Pernyataan itu dirilis pada 20 Desember 2025, di tengah derasnya sorotan publik terhadap kebijakan cashless yang kian meluas.
Lebih dari Sekadar Roti
Kisah ini bukan semata tentang roti yang tak jadi dibeli, atau tentang satu toko dan satu kebijakan. Ini adalah potret kecil dari perubahan besar yang sedang berlangsung—tentang bagaimana teknologi melaju, sementara sebagian masyarakat masih tertatih mengikuti.
Di balik sistem dan efisiensi, ada manusia dengan keterbatasannya. Dan terkadang, satu kejadian sederhana cukup untuk mengingatkan bahwa kemajuan seharusnya tidak meninggalkan siapa pun di belakang. ***











